
Dari Kebun, Untuk Cangkirmu
Di ketinggian 2.100 mdpl, suhu dingin dan tanah vulkanik menciptakan biji kopi dengan karakter unik: asam cerah, body medium, dan aftertaste floral yang memesona.
Di sini, waktu berjalan pelan. Kabut pagi menyelimuti kebun seperti selimut alam. Dan para petani — mereka bukan pekerja, tapi penjaga tradisi.
“Kopi Dieng bukan ditanam — ia dipeluk, didoakan, dan dinyanyikan.” — Pak Suryo, Petani Sejak 1978
Embun Dieng tak pernah salah memilih daun. Ia hanya hinggap di yang paling sehat.
👨🌾 Mbah Surti, 72 tahun — “Saya ajarkan cucu saya cara memetik, bukan dengan mata, tapi dengan hati.”
Di ketinggian 2.100 mdpl, suhu dingin dan tanah vulkanik menciptakan biji kopi dengan karakter unik: asam cerah, body medium, dan aftertaste floral yang memesona.
Di sini, waktu berjalan pelan. Kabut pagi menyelimuti kebun seperti selimut alam. Dan para petani — mereka bukan pekerja, tapi penjaga tradisi.
“Kopi Dieng bukan ditanam — ia dipeluk, didoakan, dan dinyanyikan.” — Pak Suryo, Petani Sejak 1978
Embun Dieng tak pernah salah memilih daun. Ia hanya hinggap di yang paling sehat.
👨🌾 Mbah Surti, 72 tahun — “Saya ajarkan cucu saya cara memetik, bukan dengan mata, tapi dengan hati.”
Perjalanan sebutir kopi Dieng dimulai dari pemetikan selektif — hanya ceri merah sempurna yang dipilih.
Setiap pagi, sebelum matahari menyentuh tanah, para petani berjalan menyusuri barisan pohon, memetik satu per satu dengan jari-jari yang sudah hafal bentuk kematangan. Tak ada mesin. Tak ada terburu-buru. Hanya kesabaran dan ketelitian.
Ceri direndam 24-36 jam di air pegunungan — proses ini memecah lapisan mucilage dan membangun kompleksitas rasa.
① Pemetikan Hati
Biji dicuci bersih di saluran air jernih, lalu disortir manual — hanya yang utuh dan padat yang lolos.
② Ritual Air Suci
Di atas para-para bambu, biji dijemur 10-14 hari. Dibalik setiap 2 jam. Hujan? Semua ditutup kain. Ini bukan proses — ini ritual.
③ Tarian Sinar Matahari
Perjalanan sebutir kopi Dieng dimulai dari pemetikan selektif — hanya ceri merah sempurna yang dipilih.
Setiap pagi, sebelum matahari menyentuh tanah, para petani berjalan menyusuri barisan pohon, memetik satu per satu dengan jari-jari yang sudah hafal bentuk kematangan. Tak ada mesin. Tak ada terburu-buru. Hanya kesabaran dan ketelitian.
Ceri direndam 24-36 jam di air pegunungan — proses ini memecah lapisan mucilage dan membangun kompleksitas rasa.
① Pemetikan Hati
Biji dicuci bersih di saluran air jernih, lalu disortir manual — hanya yang utuh dan padat yang lolos.
② Ritual Air Suci
Di atas para-para bambu, biji dijemur 10-14 hari. Dibalik setiap 2 jam. Hujan? Semua ditutup kain. Ini bukan proses — ini ritual.
③ Tarian Sinar Matahari
Di dalam dinding kayu tua pabrik kami, ilmu dan jiwa bertemu.
Setiap biji hijau melewati 7 tahap pemeriksaan: densitas, moisture content, ukuran, warna, cacat fisik, aroma kering, dan potensi flavor. Kami percaya — teknologi tanpa jiwa menghasilkan produk biasa. Tapi ketika mesin presisi dipadukan dengan intuisi manusia? Itu menghasilkan keajaiban.
“Saya bisa tahu kualitas biji hanya dari suara saat jatuh di telapak tangan. Yang bagus, bunyinya ‘tok’ — tegas dan padat.— Green Grading Master, Ibu Rina
Di dalam dinding kayu tua pabrik kami, ilmu dan jiwa bertemu.
Setiap biji hijau melewati 7 tahap pemeriksaan: densitas, moisture content, ukuran, warna, cacat fisik, aroma kering, dan potensi flavor. Kami percaya — teknologi tanpa jiwa menghasilkan produk biasa. Tapi ketika mesin presisi dipadukan dengan intuisi manusia? Itu menghasilkan keajaiban.
Bayangkan duduk di meja panjang ini — dikelilingi pohon kopi berusia puluhan tahun, kabut pagi menyentuh kulitmu, dan secangkir kopi panas baru diseduh dari biji yang dipetik kemarin.
Ini bukan tur. Ini bukan pengalaman “coffee tasting” biasa. Ini adalah undangan duduk bersama para petani, mendengar cerita mereka, merasakan tanah tempat kopi ini tumbuh, dan memahami bahwa setiap teguk adalah hasil dari cinta, keringat, dan doa.
Bayangkan duduk di meja panjang ini — dikelilingi pohon kopi berusia puluhan tahun, kabut pagi menyentuh kulitmu, dan secangkir kopi panas baru diseduh dari biji yang dipetik kemarin.
Ini bukan tur. Ini bukan pengalaman “coffee tasting” biasa. Ini adalah undangan duduk bersama para petani, mendengar cerita mereka, merasakan tanah tempat kopi ini tumbuh, dan memahami bahwa setiap teguk adalah hasil dari cinta, keringat, dan doa.
Your Name. Your Tree. Your Legacy in the Highlands.
Adopsi satu pohon kopi Dieng — dan jadilah bagian dari warisan ini.
Setiap pohon yang kamu adopsi akan diberi namamu. Setiap bulan, kamu akan menerima update foto pohonmu — dari berbunga, berbuah, hingga dipanen. Dan setiap panen, kamu akan menerima 500gr biji kopi spesial dari pohonmu — disangrai eksklusif, dikemas dengan tangan, disertai surat tulisan tangan dari petani yang merawatnya.
Your Name. Your Tree. Your Legacy in the Highlands.
Adopsi satu pohon kopi Dieng — dan jadilah bagian dari warisan ini.
Setiap pohon yang kamu adopsi akan diberi namamu. Setiap bulan, kamu akan menerima update foto pohonmu — dari berbunga, berbuah, hingga dipanen. Dan setiap panen, kamu akan menerima 500gr biji kopi spesial dari pohonmu — disangrai eksklusif, dikemas dengan tangan, disertai surat tulisan tangan dari petani yang merawatnya.
📱 Scan untuk lihat pohon “Java Whisperer” milik David dari Berlin — sedang berbunga hari ini.
📦 Inilah yang akan sampai di depan pintumu — bukan sekadar kopi, tapi cerita yang bisa kamu pegang.
Kopi Dieng bukan komoditas.
Ia adalah cerita yang tumbuh perlahan di antara kabut dan doa.
Datanglah. Rasakan. Dan bawa pulang
bukan hanya biji — tapi kenangan, rasa,
dan koneksi yang tak akan kamu temukan
di rak supermarket mana pun.
📍 Jalan Kebun Kopi No. 1, Desa Sembungan, Dieng Plateau — 2.100 mdpl
📲 Hubungi WhatsApp — Booking Pengalaman Kebun